what time is it ??

Sabtu, 25 Desember 2021

Cut-Throat Celts

Horrible Histories: Cut-throat Celts eBook by Terry Deary | Rakuten Kobo


         Penerbit     : Scholastic

Penulis         : Terry D. dan Martin B.

Tebal Buku : 139 halaman

Tahun Terbit : 1997

Bahasa : Inggris

Cut-throat Celts adalah sebuah buku sejarah edukasi yang ditulis oleh Teary Deary dan diilustrasikan oleh Martin Brown. Buku ini pertama kali terbit di Britania Raya pada tahun 1997.

Cut-throat celts berisi tentang sejarah Celtic yang informasi sejarahnya tidak diberitahukan dalam pelajaran sekolah. Sejarah yang ditampilkan dalam buku ini mengandung banyak nilai yang dapat kita pelajari dari orang yang hidup pada zaman itu, yaitu tahun 750 sebelum masehi. Orang-orang celtic digambarkan memiliki penampilan yang menakutkan dengan suara yang berat mereka juga digambarkan sebagai orang yang garang dan sangat kuat dalam pertempuran. Orang-orang celt pada zaman dahulu sangat menyukai peperangan bahkan mereka biasa berperang dengan orang-orang mereka sendiri. Dijelaskan juga bahwa permainan anak-anak yang biasa dimainkan pada zaman sekarang sudah pernah dimainkan oleh anak-anak celt, salah satunya ada permainan gunting-kertas-batu. 

Buku ini mengandung banyak informasi menarik tentang orang-orang celt dengan gambar-gambar yang sangat menarik dan terdapat banyak sekali candaan yang dapat membuat kita tertawa yang tentunya tidak membuat kita bosan dalam membaca. Banyak yang dapat kita pelajari dari buku ini, yaitu kepercayaan mereka, cara mereka hidup, cara mereka berperang yang dijelaskan bahwa mereka tidak berpakaian saat berperang, kejahatan dan hukuman yang ditimpakan, bahasa mereka dan lain-lain. Singkat kata buku ini sangat layak untuk dibaca dan buku ini juga bagus dibaca untuk anak-anak.

Kekurangan yang terdapat dalam buku ini yaitu tidak adanya edisi bahasa Indonesia untuk buku ini. Saat ini, bukunya masih terdapat dalam bahasa inggris. Kita dituntut untuk bisa berbahasa inggris terlebih dahulu agar pembaca dapat mengerti maksud yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Peresensi : Muhammad Ariq Musyafa
Kelas XI IPA 3

The Chronicles of Audy : 4R




Judul buku: The Chronicles of Audy: 4R

Penulis: Orizuka

Penerbit: Penerbit Haru

Tahun Terbit: Juli 2013

Tebal: 320 halaman

Seorang Gadis Bernama Audy yang berusia 22 tahun ini memiliki berjuta kisah yang terjadi selama masa kuliahnya. Kehidupan Audy sangat mengenaskan, namun hal tersebut tidak membuat semangat Audy hilang. Audy harus bertahan hidup ditengah kondisinya yang serba sederhana, apalagi dia sebentar lagi akan menyelesaikan perkuliahannya. Hal tersebut lah yang menjadi tantangan bagi Audy untuk bisa menyelesaikan perkuliahannya tanpa terganggu oleh masalah ekonomi.

Akan tetapi, semakin lama Audy merasa Orangtuanya menjadi kurang
perhatian hingga tidak mengirimkan uang kepada Audy untuk membayar sewa
Kos-kosan karena kedua orangtuanya mendapati musibah. Sehingga Audy bertekad
untuk mencari uang sendiri untuk menutup tagihan uang sewa nya yang menunggak.
Suatu hari, Audy pergi mencari pekerjaan yang bisa ia lamar, namun tidak ada
perusahaan yang menerrimanya. Hingga pada akhirnya Audy menemukan sebuah Iklan
di surat kabar tentang pekerjaan mengasuh Bayi. Audy pun tertarik untuk
melamar, kemudian ia pergi ke rumah yang tertera disana untuk melamar ,menjadi
seorang
Babysitter.

Sesampainya disana, Audy terkejut melihat kondisi rumah yang
membuka lowongan kerja tersebut. Rumput-rumput menjulang tinggi setinggi pagar
rumah, terlihat cat rumah yang sudah pudar dan usang. Pagar nya sudah berkarat,
terguyur air hujan hingga berwarna coklat berkarat. Hal ini membuat Audy
berpikir kembali apakah dia ingin bekerja disini atau tidak. Namun, Audy tidak
memiliki pilihan lain.

Audy mengetuk pintu rumah tersebut, beberapa saat kemudian sesosok
laki-laki bertubuh tinggi berambut hitam membuka pintu. Dia lah yang membuat
Audy harus datang setiap hari kerumahnya untuk mengasuh adiknya yang masih
kecil. Regen, Romeo, Rex dan Rafael adalah 4 bersaudara yang tinggal dirumah
tersebut. Selain menjadi babysitter, Audy juga harus menjadi pembantu rumah
yang setiap hari membereskan rumah mereka. Seperti itulah nasib yang harus
ditanggung oleh seorang Audy yang juga harus menyelesaikan Kuliah S1 nya yang
tinggal beberapa bulan lagi selesai. Apakah Audy bisa bertahan?

 

Kelebihan

Buku ini menggunakan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh
pembaca dari Remaja hingga orangtua bisa memahami gaya bahasa yang digunakan.
Selain itu, didalam novel ini terdapat amanat atau pelajaran yang bisa diambil
dari kisah Audy, yaitu kita harus bersabar dan jangan menyerah jika ingin
mengejar impian kita, apalagi impian tersebut tinggal beberapa langkah lagi.
Dan juga kita harus selalu mendengarkan nasihat dari orangtua. 

Kekurangan

Kekurangan dari novel ini terletak pada sinopsis yang kurang
menggambarkan tokoh-tokohnya. Dan juga warna dari sampul bukunya kurang menarik
sehingga mengurangi minat dari pembaca.

 

Peresensi : Muhammad Azhar Muzakki
Kelas XI IPA 1

Atomic Habits


Resensi Buku

Judul : Atomic Habits

Pengarang : James Clear

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2019

Jumlah Halaman : 356


 Buku yang dibuat oleh James Clear ini membahas tentang kebiasaan, dari teori sampai penerapan sehari-hari. Buku ini akan membantu kita dalam membentuk kebiasaan. Dikemas dengan sangat baik. Bahasa, pemaparan, sampai penerapan yang ditulis di buku ini dijelaskan dengan sangat baik, juga sangat detil.

Hal sangat krusial dalam buku ini adalah bagaimana perubahan yang walaupun kecil, tetapi konsisten itu berpengaruh sangat besar dalam jangka panjang. Menjadi baik walau hanya 1% setiap hari, jika kita melakukannya konsisten, kita akan lebih baik 37 kali dibanding satu tahun sebelumnya. Memang, dalam jangka pendek perubahan 1% tidak akan terasa sama sekali. Tetapi memang itulah prosesnya. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, kuncinya adalah sabar. 

Kesabaranlah yang akan membantu kita dalam membentuk kebiasaan-kebiasaan baik. Jika kita tidask sabar, dan selalu menyerah setiap kali kita gagal, maka kita tidak akan berhasil. Tetapi jika kita selalu sabar, kita pasti akan berhasil, walau akan memakan waktu. Karena tidak ada hasil bagus yang instan pasti ada prosesnya. Seperti kata pepatah, “Proses tidak akan mengkhianati hasil.”

Selain itu, buku ini juga membahas cara kita membentuk dan mempertahankan kebiasaan itu. Buku ini memaparkan berbagai cara dalam proses pembentukan kebiasaan. Salah satu langkahnya terdiri dari 4 bagian, yaitu petunjuk, menumbuhkan gairah, menanggapi, dan menikmati hasil. Kebiasaan akan hilang sangat cepat jika tidak dipertahankan. Seperti apa yang dikatakan buku ini, jika kita bolos dalam melakukan kebiasaan sekali, maka itu wajar, manusia membuat kesalahan. Akan tetapi, jika kita bolos dua kali, maka itu adalah awal mula proses pembentukan kebiasaaan baru.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca, karena membantu kita dalam membuat kebiasaan, juga mempertahankannya. Kebiasaan adalah kunci dari kesuksesan, kebiasaanlah yang membentuk kesuksesan. Buku ini juga menyampaikan satu hal yang sangat penting, bahwa kesuksesan bukanlah sasaran yang harus diraih atau garis finis yang harus disebrangi. Kesuksean adalah sistem yang harus disempurnakan, proses tak berujung yang harus ditingkatkan.

Peresensi : Aldrian Baihaqi

Kelas XI IPS

Pandangan Hidup Seorang Muslim

 

  • Identitas Buku

Judul Buku: Pandangan Hidup Muslim

Penulis: Prof. Dr. Hamka

Penerbit: Gema Insani

Tahun Terbit: 2018 (Cetakan Keempat)

Tebal: 268 Halaman


  • Kelebihan dan Kekurangan Buku


  • Kelebihan

Buku ini membahas secara komprehensif mengenai bagaimana seorang muslim seharusnya bersikap ketika fenomena yang sejatinya membahayakan akidah kian marak terjadi. Buku ini mampu membuka cakrawala kita terhadap situasi yang terjadi saat ini dan juga bagaimana cara kita untuk menghadapinya.


Pembahasan mengenai hal-hal fundamental keislaman dibahas dengan cara yang tidak kaku, sehingga membuat pembaca mampu nyaman dalam menikmati buku bacaan ini. Selain itu, buku ini juga tidak terpaku pada pembahasan akidah (ketauhidan) pokok saja, akan tetapi terdapat juga penjelasan mengenai aplikasi dalam kehidupan, berbagai analogi yang memudahkan, serta pembahasan mengenai beberapa sejarah terdahulu.

  • Kekurangan

Buku ini termasuk kedalam kategori buku keagamaan Islam, salah satu kekurangan dari buku ini ialah terdapat beberapa kata berbahasa arab yang tidak disertakan definisi ataupun penjelasannya sehingga dapat mengurangi pemahaman pembaca. Selain itu desain pada sampul buku cetakan keempat ini kurang menarik, terlebih dari dimensi perpaduan warnanya. Hal ini cukup kontras dengan pembahasan ilmu menarik yang terdapat di buku ini.


  • Komentar Penulis

Buku ini merupakan buku yang luar biasa. Pembahasan di dalamnya sangatlah berbobot namun, Prof. Dr. Hamka  berhasil mengemasnya dengan cara yang luar biasa cantik, tidak memicu kebosanan. Selain itu, buku ini juga mampu membangkitkan kembali semangat kita dalam beribadah kepada Allah Swt. Dengan mengulas kembali filosofi hidup dan apa yang menjadi pedoman hidup kita hingga hari kematian datang. Selain itu, buku ini juga mampu memperteguh keimanan kita dengan mendekatkan diri kita terhadap pedoman hidup muslim yakni, Al-Qur’an dan As-Sunnah.  


  • Komentar Lainnya

Buku setebal 268 halaman ini sangat relevan untuk dibaca. Terlebih, dalam zaman modern yang semuanya serba otomatis, manusia menjadi sangat rawan kehilangan kemanusiaannya. Manusia mulai mengalami dehumanisasi. Kerjanya semakin banyak dan rumit, tetapi jiwanya kering karena kekurangan nilai spiritual.

Dalam buku ini, Buya menjelaskan pandangan hidup muslim atas alam semesta, seni, ilmu pengetahuan, hingga kebudayaan. Selain itu, bahasa dan diksi melayu-indonesia yang kerap digunakan Buya mampu memunculkan kesan sastrawi ketika membaca buku ini. Hal tersebut tidak mengherankan mengingat Buya Hamka adalah seorang polymath. Beliau adalah seorang sastrawan, ulama, dan juga politikus sehingga membaca buku ini jauh dari kesan berat dan kaku. Justru sebaliknya, bahasa yang sastrawi menjadikan buku ini lebih berestetika sehingga cocok dibaca oleh berbagai kalangan. (M. Rafi Fakhriananda)


Peresensi : Muhammad Refansa Annafi

Kelas XII IPA 4


Dibalik Layar “Shadow Economy”


Rabu, 03 November 2021

KEMI : Cinta Kebebasan Yang Tersesat

 

KEMI : Cinta Kebebasan Yang Tersesat

Peresensi :  Alyandra M Deriel

 

Judul : KEMI : Cinta Kebebasan Yang Tersesat

Penulis : Adian Husaini

Penerbit : Gema Insani Press

Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Oktober 2010

Tebal Halaman : 316 Halaman

Ukuran Buku : 18,3 CM

 

      Novel “KEMI : Cinta Kebebasan Yang Tersesat” menceritakan tentang seorang santri bernama Kemi yang bersekolah di salah satu pesantren, ingin berkuliah di suatu universitas di Jakarta. Namun, ilmu agama yang dipelajarinya selama di pesantren, terkikis oleh kuatnya arus pergaulan bebas di lingkungan dengan paham-paham liberalisme, pluralisme, dan humanisme setelah ia datang ke Jakarta.Rahmat, Sahabat Kemi di pesantrennya dulu, berusaha untuk menyadarkan Kemi yang semakin terbawa arus dan malah menjadi pembicara untuk seminar paham-paham tersebut.

       Novel ini memulai komplikasinya dengan Rahmat yang sengaja datang ke Jakarta untuk bertemu dengan Kemi dan saling bertanya kabar. Namun, hal itu tidak berjalan lancar. Pertemuan Rahmat dengan Kemi membawa mereka ke dalam suatu perdebatan panas antara ilmu agama yang diyakini Rahmat dengan paham yang dianut oleh Kemi. Hingga di akhir perdebatan tersebut, Kemi yang nyaris kalah, membuka tantangan kepada Rahmat untuk ikut dengannya ke dalam lingkungan yang berinteraksi dengan berbagai macam orang dari agama yang berbeda. Rahmat yang terbawa suasana dalam perdebatan itu langsung menyanggupi tantangan tersebut. Dengan bekal ilmu yang diajarkan oleh Kyai nya di pesantren dulu, Rahmat berkuliah di universitas yang sama dengan Kemi dan menghadapi berbagai tantangan yang menguji keimanannya.

     Alur dari novel ini adalah alur maju. Menceritakan bagaimana perjuangan Rahmat membawa sahabatnya itu untuk kembali kepada jalan Allah SWT. Bertemakan tentang Akidah dan Keyakinan, buku ini memiliki 5 tokoh utama. Yaitu Kemi, Rahmat, Kyai Rois, Siti dan Roman. Kelimanya memiliki karakter yang kuat dalam novel ini. Kemi dan Siti yang berasal dari lulusan pesantren, seolah-olah merasa sebagai santri yang terbuka pikirannya dengan adanya paham-paham itu. Sedangkan Rahmat dan Kyai Rois sebagai orang yang ingin menyelamatkan Kemi dan Siti dari sesatnya jalan pikiran mereka. Disisi lain, Roman sebagai orang yang menyamar menjadi mahasiswa, ternyata memanfaatkan Kemi dan Siti untuk keperluan bisnisnya.

     Kelebihan dari buku ini adalah teori-teorinya yang rumit, namun dipaparkan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh penulis. Alur cerita ini juga sangat masuk akal dan tidak berputar-putar. Sayangnya, buku ini tamat dengan pesan Siti kepada Rahmat yang kurang memberikan penyelesaian dari masalah yang dihadapinya. Dan proses Kemi yang akhirnya ia memilih untuk memilih paham-paham tadi tidak dijelaskan secara rinci.

Seth the Brave, Hero of the Republic

 

Seth the Brave, Hero of the Republic

By Amirul Karimuddin

Prologue

People often ask me “What does it feel like to be the Hero of the Republic?” and I’m often tempted to tell them the truth “Like a big, damn fraud.”

I never ask to be the Hero of the Republic. I never ask to be the saviour of the entire Federation of Nation. I never ask to have a fan base dedicated to me. I never ask to have that new military academy in the south named after me. And I certainly never ask to have that awful ten-foot tall golden statue in the middle of the capital to be built in my name. 

Despite what many may think the perks of being the Hero of the Republic is nothing compared the risks I have to take, the sheer vomit-inducing terror I have to face, and the many, many encounters I had with death only to be saved at the last moments by events and accidents purely outside of my control. There’s really nothing to be gained in it except a few fame and admiration and also the chance to have free food via invitations from the upper class who’d thought that having the Hero of the Republic attend their daughter’s wedding party is a good way to boost their popularity with the masses.

 Being the Hero of Humanity is a terrifying job. You are constantly under attack by one thing or another. If not by Demons, Orcs, or Vampires, then by douchebag politicians or stuck up nobleman who believed that you are, somehow, a threat to their power or that you have somehow stained their honour or something. This could range from the good-old-fashioned occasional amateurish assassination attempts to something entirely ridiculous like sending an entire army after you or demanding that you fight them in a duel of honor.

 As you will no doubt discover from reading the pile of bull that I published as my ‘autobiography’ I grew up in a family of war heroes. My great-great-grandfather was an acclaimed hero of the Great War. My Grandfather meanwhile, had served ten years as an officer in the Dunes. Carrying on the tradition of making money out of the art of killing, my father also became an officer who served for twenty years in the frontiers where he met my mother.

 Growing up in this happy family of killers, I was fed numerous stories of the great and heroic feats of my predecessors which are of course embellished and polished a bit on the side to suite the mind of a young child. Being the naive kid that I was I took upon this story like a drug addict to a heroin party. They inspired me and gave me something to look up to. Sometimes I even took out one of our family’s ancestral weapons from the armory and ran around the house pretending that I was the heroes my parents loved to tell me about. For a short time being a hero became my dream.

 Fortunately though, I quickly learned of my mistake.

 As the years grew by I begin to wise up a bit. I realised then that being a hero wasn’t all sunshine and glamorous. Most of the stories regarding my ancestors being brave and valiant is usually followed by the word died and sacrificed. I’d also learned that those of my ancestors who were remembered as heroes died young and horrifying deaths with very few of them ever reaching old age or living off a happy long life. They spent their lives surviving one battle only to be sent to another, usually more suicidal, battle.

 It didn’t take long for the implication to dawn on me but when it did it was tid-bit too late. By that point my father was already convinced about my resolve to become a hero and had, in turn, began to put me through a brutal training regimen that made all those training regiment in the military academies looked like kindergarten play. It was clear that he intended to make me into the hero I always wanted to be. I knew that there was no point in trying to dissuade my old man so I didn’t.

 When the day came for me to be put into the military academy I passed with flying colors. My score was very high and because of that they allowed to choose what kind of department I wanted to be placed in. The military usually put someone in places where their scores and skills fitted them the most, so if you have, for example, a high score in marksmanship you’ll likely to be put in the sniper department or special unit department. But if you managed to pass with a high enough score the military allows you to freely choose what kind of you’d want on the army. I have a high score in all of them, partially thanks to my father’s training regimen.

 I’d considered my options very carefully one wrong choice and I’ll be sent to a brutal battlefield where I’ll most likely die a horrible death. I didn’t want to be put in the frontline, so officers and the usual military private and sergeant was out. Sniper was a bit better, I would placed far enough from the main frontline, where the majority of the deaths would be, the only problem was that I couldn’t imagine myself sitting for hours on end in the same position. And while being a sniper put me a bit away from the frontline I would still be placed on the front where the greatest dangers lie. No, I need to place as much distance between myself and the frontier. Artillery crossed my mind, the idea of bombarding the enemies from a far distance away seemed appealing and then I was reminded of Jaunty Jack, one of my ancestors who died a horrible death, and I immediately thought NOPE.

 It was at this moment that the perfect job seemed to come to my rescue. The Commissariat or the Military Police is a special sort-of department of the military. They are a unit specialized and dedicated to handling morale of the army, investigating crimes done by military officials and soldiers, and handing out punishment to those deemed guilty of said crime. They usually work behind the desk and when they are sent to the frontlines they are usually placed at the very back, far away from any dangers whatsoever. And so with little to no hesitation I applied to that particular department

 It took me awhile to convince my father of the merits of my choice. My father argued that the Commissars are behind-the-desk job that’s unworthy of our family name. I refuted his argument by sprouting some bull about how our family never had Commissars. In the end after a long debate he finally relented and allowed to take the mantle of a Commissar.

 The day I was due to depart was perhaps one of the happiest days of my life. What is there to worry about? nothing, really except a bunch of paperworks and perhaps an occasional visit or two to the field. I was looking up to a life of boring hours in the office, safe from any dangers or any threats of potentially dying a horrible, horrible death. With this kind of attitude I walked into the train that would carry me to the Commissariat Department in the capital. As I sat on the first class seats, drinking a cup of tea milked and sugared I thought to myself what could go wrong?

 The answer to that particular question, as I am about to discover, is everything. Everything could go wrong. Very, very wrong.

 ~0~0~0~

Rabu, 03 Februari 2021

TEKNIK MEMBACA UNTUK KEPENTINGAN STUDI

 

SQ3R adalah teknik membaca untuk kepentingan studi. Metode SQ3R meliputi tahapan :


1.Survey
Mengenal keseluruhan anatomi buku secara umum, meliputi halaman judul, pengarang,penerbit,abstrak, daftar isi,bagian isi buku, bagian akhir buku . Survey dilakukan dengan metode baca cepat atau skimming. Kegiatan survey ini bertujuan untuk mendapatkan informasi umum dari sebuah buku yang akan kita baca


2. Question
Susunlah beberapa pertanyaan tentang hal yang berkaitan dengan judul dan subjudul. Dalam question ini bertujuan untuk menjadikan pembaca sebagai seorang pembaca yang kritis. Tidak hanya mengikuti apa yang disampaikan oleh si penulis. Pembaca berhak untuk menyetujui ataupun tidak menyetujui apa yang dikemukakan oleh penulis. Pembaca boleh memberi pendapat dalam sudut pandang pembaca. Hingga pembaca bisa menemukan kebenaran dari isi tulisan si penulis dalam buku yang dibaca oleh pembaca.


3. Read
Bacalah seluruh isi buku sambil menjawab pertanyaan yang kita buat tadi


4. Recite
Mengulang kembali makna atau isi dari apa yang sudah dibaca


5. Review
Melihat kembali keseluruhan isi buku, membaca kembali hal hal yang penting

Setelah melewati seluruh tahapan diatas maka kita akan dapat membuat skema isi buku dan tema secara keseluruhan, memahami isi buku dan memberi penilaian terhadap buku yang kita baca.

Sudah mempraktekkannya? Jika belum yuuu kita mulai dari sekarang.

.
.
.
#teknikmembaca
#sq3rmethod
#perpustakaansekolah
#literasimembaca
#kemampuananalisisbaca
#perpustakaanalbayan
#gerakanliterasisekolah